Selamat Jalan Sang Jurnalis Cerdas!

Prinsip Idoep

Dinamika-Spirit FISIP: Paling Utama “Character Building”

Acara Kongkow Bareng Mahasiswa dan Alumni dalam rangka Dies Natalis ke-19 FISIP UAJY dengan tema: “Dinamika dan Spirit UAJY: Dulu, Sekarang, Akan Datang,” di Lobi Perpustakaan Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Sabtu 28 Agustus 2010 pukul 18-00-21.00 cukup inspiratif mempertemukan dua generasi: mahasiswa dan alumni FISIP UAJY.

Hadir empat orang pemantik diskusi: Kari Tri Aji (1992), Philipus Parera (1992), Widihasto W Putra (1993) Michael Yudha Winarno (1995) dan dimoderatori oleh Masboi Widodo (1993). Diskusi berlangsung serius-santai, ditemani aneka jajan pasar dan nasi kucing yang disiapkan oleh Mbak Arti. Pada akhir acara, seperti biasa, rombongan cleaning service dan satpam pun bergabung untuk ‘menyelesaikan’ nasi kucing dan makanan yang tersisa. Dany Ismanu (2005) mencatat poin-poin penting dalam diskusi tersebut untuk kita.

Read the rest

Pulang ke Rahim ‘Ibu yang Baik’

Oleh Yohanes ‘Masboi’ Widodo
Saya membuka 2010 dengan lembaran baru. Sejak 4 Januari 2010 ini saya pulang ke rahim ‘Ibu yang baik’, alma mater Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Saya bergabung sebagai guru bidang Jurnalisme pada program studi Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Saya ‘pulang’, karena sebelumnya, tahun 1993-1999 saya juga berada di sana, sebagai mahasiswa. Sejak berdiri tahun 1991 hingga kini, baru dua orang alumni yang menjadi guru tetap: Melani Yo, angkatan 1996 (masuk sekitar tahun 2000) dan saya (masuk tahun 2010).

Setelah dua tahun nyantrik di Wageningen University, Belanda dan berhasil menggondol gelar MSc saya putuskan untuk banting setir. Sejak lulus sarjana tahun 1999 saya bekerja sebagai praktisi media radio di Radio Sonora Palembang. Pertimbangannya, jika saya kembali ke radio, ‘ilmu’ yang saya peroleh relatif tidak terpakai. Selain itu, saya ingin menemukan suasana dan tantangan baru.

Kenapa saya berminat menjadi guru? Sejak awal, dunia media dan dunia akademik menarik perhatian saya. Sejak lulus kuliah, saya bekerja di radio. Saya cukup menikmatinya, meski pada satu titik saya mengalami kejenuhan. Karena itu, niat untuk bisa kuliah keluar negeri untuk ‘refreshing’ selain untuk meningkatkan posisi tawar. Akhikrnya saya terdampar dua tahun di Belanda. Read the rest

Buku Baru - Pers Melawan Kolonialisme

• Judul: Pers Perlawanan: Politik Wacana Antikolonialisme Pertja Selatan
• Penulis: Basilius Triharyanto
• Penerbit: LkiS Yogyakarta
• Cetakan: I, September 2009
• Tebal: xxvi+276 halaman

Surat kabar Pertja Selatan yang terbit di Palembang adalah salah satu representasi koran perjuangan. Walau banyak menghadapi tekanan kolonial, Pertja Selatan terus membangkitkan gejolak nasionalisme dengan memuat berita dan opini yang meniupkan semangat kesadaran rakyat.

Dalam hoofdartikel atau tajuk berita tentang membelenggu pesakitan pada edisi 27 Februari 1934, Pertja Selatan menggugat perlakuan terhadap pesakitan politik yang disamakan dengan penjahat kriminal. Perlakuan ini dialami jurnalis yang juga aktivis pergerakan Partindo, Jusuf Jahja. Saat dibawa ke Landraad, tangannya diborgol seperti lazimnya pembegal/pencuri.

Reaksi atas tindakan Residen Padang yang memberangus surat kabar dan melarang Bung Karno menggelar forum terbuka di Sumatera Barat ditampilkan pada 30 Mei 1929. Selain melempar kritik tajam dan pedas, tajuk berita juga memberi sebutan provokatif untuk residen, yaitu pemberangus (muilkorf).

Publikasi yang diangkat dari skripsi penulis ini menyoroti bentuk-bentuk perlawanan yang diangkat Pertja Selatan melalui analisis wacana teks terhadap 12 tajuk berita sepanjang 1926-1941. Wacana yang diangkat berdasarkan reaksi atas penindasan penjajah terhadap tiga organ pergerakan, yaitu komunis (nasionalis-revolusioner), nasionalis-radikal, dan surat kabar Melayu. (YOG/Litbang Kompas)

BUKU BARU - KOMPAS, MINGGU 20 DESEMBER 2009